Selasa, 25 Februari 2014

KISAH DARI NEGERI MELODI



Ia bernama Karenina. Tinggal di sebuah desa terpencil dengan impian besar menjadi seorang  pianis terkenal. Meski pekerjaan para orangtua hanyalah seorang penggarap kebun, tetapi semua anak seusia Karenina di negeri ini wajib  memiliki keahlian di dunia seni. Ada yang pandai bernyanyi, bermain biola, gitar, piano dan alat musik lainnya.
Saat usianya 12 tahun, Karenina sudah mahir bermain piano dan banyak meraih penghargaan sebagai pemain piano berbakat di tingkat kota. Ia sangat mengidolakan Mahisyah, seorang pianis terkenal yang selalu berkostum ala Cinderella disetiap penampilannya.
***
Suatu hari di pusat kota, Karenina membaca papan pengumuman yang berisi tentang pertunjukkan musik di kota seberang. Acara itu dihadiri oleh Mahisyah. Ia lalu berniat akan menghadiri acara tersebut agar dapat bertemu Mahisyah dan menunjukkan kemampuannya berpiano.
Saat yang dinanti pun tiba. Disela acara yang tengah berlangsung ramai itu Karenina berjalan mendekati Mahisyah yang sedang duduk anggun dengan baju kebesarannya. Sementara Karenina yang menggunakan gaun pesta bernuansa putih dan perak, tak sedikitpun berhenti membentangkan senyum pada sang idola. Mahisyah membalas senyum Karenina dengan uluran tangan tanda perkenalan.
“Selamat malam Mahisyah, perkenalkan aku Karenina,” sapa Karenina dengan sopan.
“Selamat malam. Senang berkenalan denganmu, gadis  cilik!” jawab Mahisyah ramah.
“Aku bermaksud meminta pendapatmu…” Karenina mulai memberanikan diri.
“Oh ya? Tentang apa?” tanya Mahisyah dengan mata berbinar.
“Tentang permainan pianoku. Aku sangat mengidolakanmu,” tutur Karenina dalam satu tarikan napas.
Mahisyah tampak diam seketika. Mengedarkan pandangan pada gadis cilik di hadapannya itu dengan teliti. Membuat degub Jantung Karenina berdetak tak menentu.
“Kita ke belakang panggung saja kalau begitu,” ucap Mahisyah mengejutkan. Bergegas ia berdiri dan berbisik pada seseorang untuk menyiapkan piano di belakang panggung.
Tak berapa lama, Karenina sudah terduduk di depan piano. Dengan gaun pesta yang menjuntai kain perak di bagian belakang tubuhnya, juga pita rambut berwarna putih menghiasi kepalanya yang berponi, Karenina memulai permainannya dengan tenang.  Diam-diam ia berharap, Mahisyah akan mengajaknya berkolaburasi. Memainkan piano berdua dengan dentingan hebat dan menginspirasi para calon pianis di seluruh dunia. Jari-jari lentiknya terus bergerak lincah menekan tuts berwarna hitam dan putih itu.
Namun apa yang terjadi? Baru hitungan menit Karenina memainkan piano, Mahisyah terlihat berdiri lalu meninggalkan tempat begitu saja. Langkahnya yang tergesa-gesa seolah tak memberi kesempatan pada Karenina untuk menuntaskan permainannya hingga akhir.
Deg! Sesaat Karenina merasakan degub jantungnya berhenti. Gadis cilik itu dilanda kebingungan. Sambil menatap kepergian Mahisya, mata Karenina berkaca-kaca menahan tangis. Pertemuan itu sungguh membuatnya merasa tak berharga. Ia malu dengan dirinya sendiri. Ternyata permainan pianonya di hadapan Mahisyah belumlah seberapa dibandingkan prestasi yang telah diraihnya selama ini. Lalu apa yang bisa diharapkannya sebagai penduduk Negeri Melodi?
Karenina berlari meninggalkan gedung pertunjukkan musik dengan hatinya yang telah hancur. Harapannya hilang sudah. Tak ada gunanya ia teruskan mimpi besar itu. Tak ada yang perlu diperjuangkannya lagi kecuali melanjutkan hidupnya di desa terpencil.
***
Kini Ia bekerja membantu orangtuanya sebagai pemetik strowbery dan anggur di kebun buah milik Tuan Harry. Perlahan, Karenina mulai mengubur mimpi besarnya yang pernah ada. Berbagai lomba musik pun ia lewati, karena segala yang berhubungan dengan musik sudah tak ingin disentuhnya lagi.
 Lima tahun telah berlalu sejak Karenina bekerja di perkebunan. Seperti biasa, Tuan Harry mengadakan acara yang cukup mewah untuk memeriahkan pesta panen. Sebagai penduduk negeri Melodi, Tuan Harry menggelar pesta musik rakyat dengan mengundang pianis wanita terkenal di masa itu. Siapa lagi kalau bukan Mahisyah?

 Mendengar nama yang tidak asing di telinganya, Karenina pun teringat peristiwa yang sangat memalukan itu. Ia beranikan diri menemui Mahisyah dengan sisa kecewa yang masih ada.
“Mahisyah, ingatkah kamu denganku?” tegur Karenina tanpa senyum.
“Tentu aku ingat. Kamu gadis cilik yang pernah menunjukkan permainan pianomu, bukan?” jawab Mahisyah lancar.
“Iya, betul. Kenapa malam itu kamu meninggalkanku begitu saja? Apa kamu tidak tahu, sikapmu benar-benar membuatku merasa tidak berharga...” ungkap Karenina dengan wajah sendu.
“Oh, aku tidak meninggalkanmu, Karenina! Malam itu aku bergegas  memanggil ayahku untuk menyaksikan penampilanmu yang luar biasa itu. Gaunmu, permainanmu, sungguh mengagumkan!” kata Mahisyah menjelaskan.
“Mengapa kamu tidak bilang? Setidaknya aku bisa tahu bahwa kamu tidak sedang mengacuhkanku,” sahut Karenina cepat.
“Itu bukan kebiasaanku. Aku tidak pernah diajarkan mengganggu seseorang yang sedang melantunkan nada dari jiwanya,” Mahisyah membela diri.
  Karenina membisu. Matanya kembali berkaca-kaca menyesali sikapnya yang salah dalam menilai seseorang.
“Perlu kamu ketahui, sejak malam itu aku sudah merubah penampilanku. Lihat, kini gaunku tidak seperti Cinderella lagi,” Mahisyah berputar pelan di hadapan Karenina. “Penampilanmu malam itu sudah menginspirasiku dan membuat penggemarku di negeri ini semakin banyak!”
Karenina terperangah. Matanya membelalak kaget menyadari perubahan Mahisyah yang bergaun persis seperti gaun yang dikenakannya di malam menyedihkan itu.
“Aku sangat berterimakasih padamu Karenina. Bagaimana kalau kita berkolaburasi? Kita guncang negeri ini dengan dentingan piano dari jari-jari cantik kita!” ajak Mahisyah penuh semangat.
“Oh, tidak mungkin!”
“Kenapa tidak?”
“Aku sekarang hanyalah seorang buruh perkebunan. Kerjaku setiap hari memetik strowbery dan anggur…”
“Itu terapi yang bagus untuk jarimu. Aku yakin kamu masih bisa menjadi pianis hebat!” seru Mahisyah sambil menarik tangan Karenina ke atas panggung. Karenina tidak bisa mengelak ajakan Mahisyah. Jiwa seninya seolah mendadak terpanggil kembali.
Lalu keduanya pun duduk berdampingan di depan piano, disambut tepuk tangan para hadirin yang menyaksikan. Mahisyah dan Karenina bermain piano bersama, memadukan nada-nada yang melantun dari jiwa mereka.  
***

GEMPITA PEMILU KOMITE MIN 18 JAKARTA



Sabtu, 15 Februari 2014. Pagi diguyur hujan ketika kami para Panitia Pemilihan Komite Madrasah Ibtidaiyah Negeri 18 Jakarta (Mindelasta) periode terkini masih di rumah mempersiapkan diri untuk bertugas mensukseskan sebuah acara yang terbilang spektakuler ini. Pasalnya, dua tahun masa jabatan pengurus Komite periode 2012-2014 sudah berakhir per tanggal 4 Februari 2014 lalu. Dan momen ini akan disandingkan dengan acara Laporan Pertanggung Jawaban sang Ketua dalam gelar Rapat Umum Anggota.
Bertempat di ruang kelas III lantai dua, tepat jam 7.30 beberapa panitia sudah bersiap menyambut para orang tua siswa. Sambil menunggu, resah pun melanda. Hal yang kami cemaskan adalah kehadiran para orang tua yang notabene sulit menghadiri undangan rapat. Apalagi di tengah cuaca yang sangat mendukung untuk bersantai di rumah. Syukurlah di menit-menit menuju jam 8 pagi mulai terlihat para orangtua siswa mengisi lembaran daftar hadir.
Setelah sebagian besar bangku di ruangan terisi oleh peserta forum, acara pun dimulai. Ibu Sri yang pagi ini bertindak selaku MC membuka acara pada pergerakan jarum jam menuju angka 9.
Memasuki acara pertama yakni sambutan ketua Komite Madrasah periode 2012-2014, disampaikan langsung oleh Bapak Elvin Sasmita. Beberapa hal pun digulirkan, mulai dari sepak terjang Komite Madrasah sejak dibentuk dua tahun lalu, peran dan fungsi Komite, hingga keberadaannya di hadapan para guru dan orang tua siswa. Namun sayang sekali, acara yang sedianya dirancang akbar ini hanya dihadiri oleh 15 persen saja (62 orang) dari total seluruh siswa-siswi MIN 18 Jakarta yang berjumlah 450 orang.
“Inilah wajah kepedulian orang tua terhadap Madrasah. Belum sampai 50 persen dari kita yang mau peduli dan terketuk untuk ikut serta dalam mengembangkan Madrasah,” ungkap Pak Elvin dalam sambutannya.
“Komite Madrasah sebagai lembaga legal yang dibentuk guna menjembatani kebutuhan orang tua terhadap pihak Madrasah, hendaknya dipahami sebagai wadah yang efektif dan efisien dalam menyampaikan setiap ide, gagasan ataupun kritik dan saran terhadap kegiatan pendidikan yang berlangsung,” tegas Pak Elvin kepada forum.
Lain hal dengan sambutan Bapak Nursobari, mewakili Kepala Madrasah yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya Pak Nur sangat mengapresiasi peran serta Komite yang telah banyak mensukseskan program kegiatan Madrasah selama dua tahun ini.
Memasuki acara inti, Bapak Majlani sebagai Steering Committee dalam kepanitiaan berlanjut terpilih sebagai ketua sidang bersama Ibu Sri dan Ibu Kartini sebagai sekretaris dan anggota. Sidang pleno pun terbagi tiga.
Pertama, Sidang pleno menetapkan tata tertib rapat. Terdiri dari delapan Bab dan belasan pasal untuk satu demi satu disepakati bersama seluruh peserta rapat.
Kedua, Sidang pleno membahas pandangan umum seluruh pengurus kelas terhadap Laporan Pertanggung Jawaban Komite Madrasah periode 2012-2014 oleh seluruh koordinator atau wakilnya.
Secara garis besar, peran dan fungsi Komite Madrasah di bawah kepemimpnan Bapak Elvin baru sebatas mendukung (supporting) kegiatan yang diprogramkan pihak Madrasah. Mulai dari Study Tour, Perpisahan Kelas enam, Pentas Seni, Buka Bersama, Bakti Sosial dan Perkemahan Jum’at Sabtu. Sedangkan peran dan fungsi lain seperti advisor, controlling dan mediator belum dapat dimaksimalkan. Karena itu untuk perbaikan kinerja Komite berikutnya nanti perlu sekali diadakan pertemuan  (di awal tahun ajaran baru) antara pihak Madrasah dengan Komite yang bertujuan untuk membuat rancangan strategis tentang program pendidikan kedepan selama setahun.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka pandangan umum para Koordinator Kelas terhadap hasil kerja Komite selama dua tahun ini tetap memberi penghargaan setinggi-tingginya bilkhusus kepada Bapak Elvin yang telah mengorbankan waktu, tenaga dan pemikirannya dalam mengemban amanat. Selanjutnya ungkapan itupun disambut ketokan palu ketua sidang sebagai pertanda sepakatnya forum rapat untuk menerima seluruh laporan pertanggung jawaban yang disampaikan.
Memasuki acara selanjutnya, yakni Sidang Pleno ketiga. Merupakan puncak acara yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota rapat karena pada sesi ini akan dipilih sosok-sosok baru dalam estafet kepengurusan Komite Madrasah periode 2014-2016.

Diawali dengan perhitungan kertas suara dari hasil penjaringan bakal calon yang terkumpul oleh panitia, maka terpilihlah lima suara terbanyak sebagai berikut:
1.      Bapak Syafa’at sebanyak 31 suara
2.      Bapak Elvin sebanyak 27 suara
3.      Ibu Fitros sebanyak 26 suara
4.      Bapak Sudiman Sihotang sebanyak 19 suara
5.      Bapak Yahya sebanyak 19 suara

Dari hasil perhitungan tersebut, dikarenakan Bapak Syafa’at sebagai pemilik suara terbanyak tidak hadir dalam rapat, maka ketua sidang (disepakati oleh forum) memutuskan untuk kembali melakukan pemungutan suara untuk dua calon dengan suara terbanyak yang akan dipilih menjadi ketua Komite terbaru. Suasana sidang pun spontan memanas. Dan akhirnya Bapak Elvin memenangkan perhelatan ini dengan perolehan suara terbanyak, yakni 15 suara. Selisih dua angka dengan Bapak Syafa’at yang memperoleh 12 suara. 

Usai pembacaan hasil rapat oleh ketua sidang mengenai ketua Komite terpilih periode 2014-2016, maka berakhir pula rangkaian acara Rapat Umum Anggota Komite MIN 18 Jakarta. Semoga dibawah kepemimpinan Bapak Elvin untuk yang kedua kalinya ini pihak Komite dan Madrasah dapat bersinergi secara lebih baik lagi demi kemajuan yang sama-sama kita harapkan. Aamiin.
Salam Sinergi !
Cijantung, 20 Februari 2014
17.30 WIB
 

HARU BIRU SEKOLAH ANAKKU

Kabarnya sejak pertama kali didirikan,  madrasah negeri tempat anak-anakku sekolah belum menggunakan model penyaringan untuk menerima calon siswa-siswinya. Semua peminat madrasah pun tak perlu bersaing atau khawatir buah hatinya tidak diterima karena memang kuotanya masih tersedia.

Baru di tahun 2009 pihak madrasah melakukan penyaringan. Dan ini sudah berlaku saat puteraku yang kedua kudaftarkan. Kini setiap tahunnya madrasah kebanjiran peminat sehingga tahap penyeleksian calon siswa selalu menegangkan para orang tua. Otomatis hanya 80 siswa-siswi dengan nilai tertinggi saja yang bisa diterima. Selebihnya, silakan mencari sekolah dasar umum.
Jujur, aku pernah merasakan dahsyatnya kegalauan saat mendaftarkan anak keduaku di sini. Bagaimana tidak? Motorku yang tadinya berada dalam barisan penuh sesak di parkiran kendaraan, menjadi tinggal sendirian saja setelah pelaksanaan tes ujian masuk berlangsung dua jam. Parah! Berarti kan cuma aku dan anakku saja yang belum pulang. Masya Allah... Susahkah soal-soalnya?
Ya begitulah. Ternyata memang susah. Alhamdulillah anakku bisa lolos ujian masuk meski paling buntut.

*kembali ke topik*

Berhubung dulu madrasah cenderung menerima sebagian besar penduduk sekitar yang notabene berada dalam garis ekonomi tidak begitu kecukupan, maka hal tersebut berimbas pada detik-detik PERPISAHAN kelas enam tahun ini (sulungku dan teman-temannya) yang tinggal hitungan minggu.
Posisi gedung yang berada di tengah pemukiman penduduk asli setempat (betawi), menyebabkan beberapa siswa-siswi mayoritas berasal dari keluarga berlatar belakang kurang pendidikan. Bukan berarti orang tua mereka tidak sekolah meski memang beberapa tercatat lulusan SD, tetapi tradisi yang berkembang di sini mungkin sekolah hanya dianggap “sekedarnya” saja. Akibatnya, mereka jadi tidak memiliki peningkatan taraf hidup yang membaik. Seperti dialami seorang bapak yang juga ayah kandung seorang artis. Menurut adik tiri sang artis (yang kabarnya sedang buron ini), sudah lama si bapak tidak terdengar kabar. Baru beberapa minggu ini terdengar masuk penjara. Duh, kakak tirinya buron… bapaknya di penjara… Bagaimana nasib anak ini?

*Dan dari sinilah kisah mengharukan itu berawal...

Acara MABIT (malam bina iman takwa) yang rutin diadakan sebagai momen terakhir kebersamaan anak-anak usai ujian nasional berlangsung, cukup menuai dilema. Pasalnya acara yang memakan dana ratusan ribu per anak itu dirasa memberatkan. Tentunya hal ini tidak dirasakan oleh sebagian orang tua dengan latar belakang ekonomi mencukupi. Lagipula, program menabung di kelas enam lumayan gencar digemakan oleh guru. Salah satu tujuannya adalah untuk meringankan beban biaya di penghujung kelas enam nanti. Tetapi lain cerita saat fenomena ini sampai ke hadapan orang tua atau wali murid yang secara latar belakang ekonomi keluarganya kekurangan.

Berbagai tanggapan pun bermunculan, dari mulai yang bernada lembut hingga kebalikannya. Yang pasti suara-suara memprihatinkan ini cukup membuat kami para pengurus kelas mengelus dada setelah kening kami berkerut semua. Demi menelusuri kondisi terkini para orang tua, kami sengaja melakukan kunjungan ke beberapa rumah siswa.

“Mamanya baru kecelakaan Bu, mana lagi hamil, yang nabrak lari lagi!” kata seorang bapak mengadukan keadaan keluarganya di sebuah rumah kontrakan yang sempit dan kumuh.
“Bengkel Bapaknya lagi sepi Bu, ya mudah-mudahan sih bisa kebayar…”
“Itu duit semua tuh? Ini aja baru napas abis lunasin uang kuliah kakaknya, eh ada lagi yang nyusul…”
“Kalo saya sih jujur nggak sanggup Bu, hasil nyuci aja cuma pas buat beli beras…”
“Cucu saya sih emang nggak ada orang tuanya Bu. Bapaknya meninggal, ibunya kawin lagi, anak-anaknya ditinggalin sama saya semua. Jadi ya harap maklum ya Bu, mudah-mudahan ibu-ibu pengurus pada sehat semua, sukses acaranya, anak-anak pada seneng!” ungkap seorang nenek dengan bijak dan menyemangati kami.
Subhanallaaah…! Miris rasanya.

Di sisi lain, aku dan teman-teman juga coba mengakomodir harapan anak-anak mengenai format acara perpisahan yang mereka kehendaki. Salah satu acara yang mereka idam-idamkan memang begitu kuat memohon ke vila yang ada kolam renangnya.

“Kita mau refreshing Bundaaa! Kan capek selama kelas enam ini belajar terus…” begitu paduan suara anak-anak generasi masa depan kami berkomentar.
Rasanya terenyuh sekali hati ini, melihat wajah-wajah polos dan lelah merengek manja, sementara sebagian besar orang tua mereka banyak yang keberatan dengan dana yang harus disiapkan.
“Gimana kalau kita bermalam di lapangan voli depan sekolah saja? Kita buat tenda dan api unggun. Pasti menyenangkan juga!” usulku menyarankan.
“Yaaah, kita kan mau berenang juga Buund! Lagian kan yang tahun-tahun kemarin juga acara mabitnya di vila, masa kita enggak?” lagi-lagi paduan suara itu menyentuh jiwa.

Masya Allah…!

Apakah etis bila kami sampaikan bahwa orang tua merekalah yang menjadi pertimbangan terkuat. Bahwa mayoritas kelas enam tahun ini faktanya memang berisi keluarga kurang mampu. Bahkan hampir enam puluh persen tercatat dalam daftar penerima BSM (Bantuan Siswa Miskin), sudah termasuk di dalamnya sebelas siswa-siswi yang yatim. Sedangkan total jumlah anak-anak kelas enam tahun ini hanya enam puluh tujuh orang. Terbayang betapa beratnya pula bila kami harus melakukan subsidi silang. Bagaimana cara kami mengkomunikasikan hal memprihatinkan ini pada mereka? Sementara kami juga merasa harus bertanggung jawab untuk mengkondisikan jiwa mereka sebaik mungkin dalam menghadapi detik-detik ujian ini. 

Pihak madrasah pun sudah menyarankan agar kami tidak memaksakan diri. Tetapi wajah anak-anak yang polos dan lelah itu selalu terngiang. Membuat kami terpacu untuk melakukan yang terbaik sesuai harapan mereka.

“Begini saja Pak, kami akan berusaha mencari dana, saya yakin masih banyak orang di luar sana yang mau berbagi keberkahan hidupnya. bila tidak mencukupi juga kita akan mempertimbangkannya lebih lanjut. Mohon do’a restu Bapak saja, semoga kami bisa mengumpulkan dana,” kataku dan teman-teman pada bapak kepala madrasah. Ucapan yang tegas diiringi optimisme yang memuncak di lubuk hati terdalam.

Dan... Allahu Akbar! siapa yang mengira bahwa ternyata perjuangan kami mendapat sambutan yang cukup melegakan. Guru dan orang tua murid yang berkenan menjadi donatur, juga teman-teman sharing kami di fesbuk dan BBM yang bersedia membiayai satu sampai dua anak yatim setelah menyimak curhatan kami. Alhamdulillah. Rezekinya anak-anak!

Akhirnya kami sepakat untuk mewujudkan harapan mereka.
Meski harus berhadapan dengan masalah dana, kami akan berusaha meluluskan keinginan anak-anak demi mengakhiri masa-masa terindah dan fenomenal setelah enam tahun mereka bersama.

Semoga Allah meridhoi. Amiin Ya Robbal ‘Alamiin…

Minggu, 08 September 2013

INDONESIA BARU BERSAMA PERTAMAX UNTUK KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK




“Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu memandang persoalan negara sebagai  tantangan demi mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.”

Indonesiaku Oh Indonesiaku…

Persoalan bangsa yang mencuat di awal abad ke-20 ini disinyalir akibat percepatan arus globalisasi yang kurang memberi kesempatan pada kita untuk melakukan penataan diseluruh aspek pembangunan.  Hal ini tentu saja menimbulkan ketimpangan baik di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, budaya serta lingkungan.


Satu dari sekian masalah tersebut adalah fenomena kenaikan BBM yang mendorong kebijakan pemerintah untuk menyalurkan subsidi. Meski menuai kontroversi diberbagai pihak namun keputusan itu tetap dijalankan mengingat kebutuhan masyarakat akan BBM sangat tinggi.


            Namun realitanya penerapan BBM bersubsidi di lapangan mengalami banyak penyalahgunaan. Pasca kenaikan, konsumen BBM non subsidi berbondong-bondong mengganti bahan bakar kendaraannya karena selisih harga yang cukup drastis. Anggaran belanja negara untuk BBM bersubsidi pun membengkak demi memenuhi kebutuhan konsumen yang meningkat sehingga kuota untuk sektor yang lain berkurang seperti sektor pendidikan, kesehatan juga sarana dan prasarana transportasi.




Add caption



Di bidang pendidikan, walaupun SPP gratis, masih kita temui keluhan masyarakat yang merasa terbebani dengan biaya masuk sekolah. Sedangkan di dunia kesehatan seringkali kejadian masyarakat tidak dilayani sebagaimana mestinya. Begitupun dengan sarana dan prasarana transportasi yang membuat masyarakat terganggu akibat jalanan rusak. Kondisi inilah yang pada akhirnya menurunkan tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.    


Semoga gambaran di atas dapat segera tersudahi demi membangkitkan kepercayaan masyarakat pada sang pemutus kebijakan di negeri kita tercinta ini.


Eksistensi Pertamax  


Dan di tengah-tengah kondisi memprihatinkan di atas, Pertamax sebagai BBM non subsidi tetap eksis sejak keberadaannya di awal tahun 1999 dengan cara yang menakjubkan. Baru tersadar oleh saya ketika berada di SPBU Pertamina. Kini posisi Pertamax ditata bersebelahan dengan BBM bersubsidi. Saya seperti diajak merenungi pemandangan ini. Bahwa bicara BBM berkualitas tidaklah melulu berkaitan dengan harga sehingga hanya kendaraan mewah saja yang mengonsumsinya. Tetapi lebih kepada kebutuhan naluri sebuah kendaraan yang ingin tampil dengan performa prima. Belum usai dengan perenungan ini, saya kembali merasa takjub ketika menyaksikan beberapa pengendara motor memilih Pertamax sebagai bahan bakar kendaraannya. Bahkan sesekali saya lihat diantara mereka ada yang berseragam sekolah. Kondisi tersebut membuktikan bahwa keberadaan Pertamax perlahan mulai akrab di hati banyak orang sehingga terus melakukan upaya agar mudah dijangkau oleh kalangan manapun.


Pertamax dan prinsip hidup yang terkandung di dalamnya


Sosialisasi Pertamax yang secara gencar meraih simpati konsumen menurut saya adalah upaya pertamina untuk menyeru masyarakat akan besarnya manfaat Pertamax bagi kendaraan. Mesin menjadi awet, biaya service berkurang, bebas asap beracun, menyehatkan lingkungan, dan bila mencapai target konsumen yang meningkat akan meringankan beban pemerintah dalam anggaran belanja Negara. Kesan ‘mahal’ Pertamax pun akan pupus dengan sendirinya. Yang tersisa di benak masyarakat hanyalah sisi positif saat menggunakannya dalam jangka panjang.

Apa sisi positifnya?

Pertamax dengan kualitas prima yang terkandung didalamnya ternyata memiliki beberapa prinsip hidup dan patut kita implementasikan dalam kehidupan.


1.       Efektif dan Efisien


Berangkat dari konsep hemat yang disuarakan oleh Pertamax, tidak jarang para pengguna BBM non subsidi ini menjadi efektif dan efisien dalam berkendara. Tidak menggunakan kendaraan pribadi bila jarak dan waktu tempuh perginya hanya sedikit. Sejuta orang saja berpikiran sama, maka terbebaslah negeri kita ini dari kemacetan kota.


2.       Berkarakter


Keberadaan Pertamax tidak pernah terpengaruh oleh kondisi politik dan sosial yang bergejolak. Dengan tetap memasang harga tinggi, Pertamax selalu mengutamakan kepercayaan masyarakat akan kualitasnya bagi kendaraan bermotor.


3.       Kesetaraan


Pertamax kini hadir dengan imej yang berbeda. Masyarakat ekonomi bawah, menengah dan atas, sama-sama berkepentingan memperoleh manfaatnya. Seperti halnya seorang muslim calon jama’ah Haji. Tidak ada istilah kaya dan miskin dalam data calon haji yang hendak berangkat ke Mekkah. Yang penting memahami ajaran agama dan berusaha untuk mampu memenuhi biaya yang harus dibayarnya.


4.       Cerdas


Tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat yang utuh melalui penggunaan Pertamax dalam jangka panjang, secara otomatis akan mengurangi beban subsidi yang dilakukan pemerintah. Anggaran belanja dapat dialokasikan ke sektor yang lebih penting lainnya. 

            5.       Penyelamat


Menggunakan Pertamax berarti menyelamatkan dana pemerintah untuk dialokasikan ke tempat yang lebih utama. Sehingga berimbas pada peningkatan pelayanan kesehatan, beasiswa pendidikan, seragam sekolah gratis, jalan raya yang bebas macet dengan udara bersih serta menyehatkan. Alam pun tetap lestari dan mampu bersinergi secara maksimal untuk menghasilkan materi yang dibutuhkan umat manusia.


            Berdasarkan uraian di atas, saya ingin menyampaikan bahwa kehadiran Pertamax sudah semestinya kita pandang sebagai solusi menuju kehidupan bangsa yang lebih baik. Pemahaman utuh masyarakat dalam penggunaan Pertamax adalah pembelajaran hidup yang pada akhir prosesnya nanti akan menuai kebaikan. Bagaimana tidak? Secara sosial Pertamax telah mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Saya optimis, pembangunan ekonomi perlahan dapat membuahkan hasil karena BBM yang merupakan‘produk dalam negeri’ ini akan menjadi sangat produktif. Bila kondisi ini sudah stabil, maka kepercayaan masyarakat kepada pemerintah pun akan bangkit kembali. Semoga wacana di atas dapat terealisasi dan menjadi wajah baru Indonesia kita nantinya. Karena Indonesia baru bersama Pertamax memang hadir untuk kehidupan yang lebih baik.